Habieb Rizieq Akhirnya Mampir Ke Polda Metro Jaya

5875d6d515fae-rizieq-shihab-fpi-di-gedung-dpr_663_382

Dalam kearifan lokal dan juga kearifan budaya bangsa, banyak terdapat ungkapan, pepatah, dan atau peribahasa yang mengandung nasehat, peringatan, dan atau juga larangan yang tetap relevan dalam situasi dan kondisi apapun. Salah satu pepatah atau peribahasa lama yang sangat relevan dengan  fenomena kekinian, khususnya dalam jagad perpolitikkan nasional hari-hari ini, berbunyi, “mulutmu harimaumu”. Relevansi ungkapan, pepatah, dan atau peribahasa lama itu tetap actual hingga hari ini. Pepatah itu diungkapkan kembali Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Metro Jaya, Inspektur Jenderal (Irjen) Moch. Iriawan.  Irjen Moch. Iriawan, ketika menyentil salah seorang (sebut saja si Brisik) yang selama ini paling getol memobilisasi massa atas nama penistaan agama menyuarakan untuk memenjarakan seseorang atas ucapan atau pernyataan yang dikeluarkannya.

Mungkin saking semangatnya berteriak garang dan berharap aparat penegak hukum menjadi kecut sehingga segera menangkap dan memenjarakan seseorang atas ucapannya, yang dinilai telah dengan sengaja ‘menistakan’ agama mayoritas, kemudian tanpa sadar dan sedikit terlena, lupa menjaga lisannya sendiri. Maka untuk supaya dapat sedikit menyadarkannya dari ‘ketidaksadaran’-nya itu, Kapolda Metro merasa perlu menyentilnya dengan ungkapan sindiran itu. Mungkin juga merasa tersentil, sehingga yang bersangkutan, tanpa disangka dan diduga, berubah menjadi melempem. Sebuah sikap yang tidak menunjukkan ‘karakter’ aslinya, garang dan keras. Ada semacam anomali, seakan menunjukkan sikap yang sangat terbalik. Berubah nyaris 180 derajat. Padahal ketika di atas kendaraan ‘kehormatannya’ di tengah-tenagh massa, ia dengan lantang dan garang berteriak, ‘tangkap dan penjarakan’! Dengan semangat 45 dan energy yang seakan tak pernah habis, si Brisik mencoba mengagitasi, memprovokasi, menghasut, dan memanipulasi emosi massa, untuk bergerak dan bergerak. Tujuannya jelas dan terarah, berharap menjungkalkan lawan dengan menggunakan tangan orang lain sambil mengkapitalisasi kebencian massa dengan isu-isu agama.

Karena merasa sepak terjang dan pola tindaknya tidak ‘tersentuh’, si Brisik seakan lupa, bahwa ‘musuh’ di kanan kiri, depan belakang sedang menunggu dan menanti, kali-kali saja dia lengah dan berbuat khilaf. Dan ternyata harapan itu terwujud, ketika eforia sudah sedemikian ‘mengungkunginya’, si Brisik pun teledor. Bukan cuma satu, dua, atau tiga, tapi nyaris beruntun.   Ungkapan, pepatah, dan atau peribahasa, ‘mulutmu harimaumu’ sungguh sangat relevan disematkan kepada si Brisik yang menunjukkan nyali aslinya tidak seperti sejatinya. Akibat tak menjaga lisan dengan baik, ia terpaksa harus menerima ‘badai’. Publik yang masih waras kemudian berujar, ‘siapa yang menabur angin, pasti akan menuai badai’.    Maka ‘badai’ itu tanpa di sadari kini menghampirinya bertubi-tubi. Bukan hanya satu ‘badai’, melainkan berbadai-badai. Dan ’badai’ itu datang, beruntun dan bergelombang.

 

 

Entah karena kurang siap, atau karena tidak menduga sebelumnya, si Brisik sangat yakin dan tetap percaya diri, bahwa tidak akan mungkin ada orang lain mencoba mengusik ‘ketenangannya’. Sehingga si Brisik merasa tenang-tenang saja memobilisasi masssa dengan isu-isu primordial untuk kepentingan politiknya, sambil menyerang sana sini. Pikirnya, tidak ada orang yang berani menantang, apalagi menghentikan langkahnya, meski ia seorang Kepala Pemerintahan dan Kepala Negara dari negeri besar nan permai ini. Dalam fantasinya, secara defacto si Brisik merasa, dialah yang berkuasa. Si Brisik kemudian lupa menyiapkan pertahanan. Mungkin pikirnya, bahwa dalam filosofi sepakbola, pertahanan yang paling baik adalah menyerang. Maka dengan eforia yang membongkah, si Brisik dengan enteng menyerang sana, menyerang sini. Lupa bahwa amunisi yang ditembakkan itu mengandung racun SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) pula. Menyerang secara membabi buta, tanpa mempertimbangkan obyek atau sasaran tembaknya. Si Brisik mencoba pula menafsirkan ‘wilayah privat’ orang lain, sesuatu yang selama ini ia tafsirkan secara sepihak sebagai penistaan dan berpotensi menyulut ketersinggungan kehormatan keagamaan pihak lain. Klaim kebenaran tunggal sehingga memaksanya memobilisasi massa untuk melakukan protes, pressure, dan intimidasi, agar orang yang telah dengan sengaja ‘menafsirkan’ ayat suci umat lain sebagai sebuah perbuatan melawan hukum, ditangkap dan dipenjarakan. Menegasikan proses hukum yang berdasarkan prinsip, praduga tak bersalah.    Dan kini ketika ‘badai’ itu berbalik menyerangnya karena telah dengan sengaja menabur angin, si Brisik malah bersikap melempem. Berbalik 180 derajat, tidak sebrisik suaranya di atas podium kehormatan ketika berhadapan dengan massanya.

Sambil memelas, si Brisik bermohon agar semua kasus yang menimpanya dapat diselesaikan secara kekeluargaan (sumber). Tanpa malu-malu (padahal malu-maluin), si Brisik meminta supaya pihak kepolisian dapat bertindak sebagai mediator untuk memediasi pihaknya dengan pihak-pihak yang telah melaporkannya. Si Brisik ternyata bermental kerupuk, nyalinya Cuma seupil. Si Brisik malah dengan enteng menafikkan kenyataan bahwa ada prinsip hukum yang harus pula dihormati oleh semua warga bangsa. Bahwa semua sama di depan hukum (equality before the law). Prinsip itu menegaskan bahwa siapapun yang berlaku dan bertindak melawan hukum, maka harus siap menerima konsekuensi hukum atas perbuatan dan tindakannya. Tidak ada dispensasi atas nama dan alasan apapun. Tidak ada warga bangsa yang merasa lebih terhormat sehingga harus kebal hukum. Siapa yang melanggar hukum harus tetap diproses secara hukum pula. Di depan hukum, tidak ada privilege, semua sama. Apakah ia presiden, gubernur, bupati, walikota, pejabat teras pada suatu departemen, jenderal, kiyai, ustadz, habib, pastor, pendeta, bikhsu, atau rakyat jelata. Semua harus diperlakukan sama di depan hukum, tanpa kecuali.

 

 

Jika kemarin, anda dengan konco-koncomu berteriak dengan sangat lantang untuk menangkap dan memenjarakan seseorang atas kesalahannya’, maka mengapa pula sikapmu  malah berbalik ketika kasus  yang nyaris sama menimpa anda, si Brisik? Meminta supaya jangan diproses hukum, tetapi diselesaikan secara kekeluargaan. Tanpa malu pula meminta pihak kepolisian, yang anda hina dina, agar mau bertindak menjadi mediator. Anda lupa bahwa kasus yang diduga menyebabkan anda dilaporkan itu, nyaris serupa dan sebangun dengan kasus yang kemarin-kemarin anda paling getol menyuarakan supaya tetap diproses hukum dan jangan ada yang intervensi? Tidakkah anda menyadari bahwa sikapmu itu malah menimbulkan penilaian bahwa anda bermental banci? Lebih jauh, akan dicap sebagai munafik (hipokrit)? Ketika pihak lain yang kelompok anda tuduhkan sebagai telah melakukan tindakan pidana meski hanya bersumber dari video pidato yang durasinya telah dipotong, anda dan konco-koncomu tetap keuh-keuh dan nyaris tak mau peduli dan ambil pusing dengan konteks, tempat, dan waktu serta keutuhan pidato itu.

Anda dengan kelompokmu tetap memaksakan kehendak bahwa meski hanya berupa potongan pidato, dan itu pasti terlepas dari konteksnya, anda tetap menyatakan itu sebagai sebuah tindakan pidana, karena itu, menurut kelompokmu, tidak perlu lagi diproses hukum, tapi langsung ditangkap dan dipenjarakan. Tapi mengapa pula, ketika hal yang hampir serupa dan sebangun dalam hal tuduhan atas penistaan Pancasila malah anda balik menuduh bahwa pidato anda itu sudah dipotong dan diedit dari keseluruhan durasi pidato? Mengapa pula anda seperti cacing yang kepanasan menuduh sana, menuduh sini, bahwa apa yang anda alami sebagai bagian dari permainan politik? Mengapa pula anda dan kelompokmu selalu berprasangka bahwa apa yang sedang anda alami sebagai bentuk kriminalisasi tokoh agama? Mengapa anda menggunakan standar ganda dalam menilai dua kasus yang hampir sama? Tidakkah itu mencerminkan anda sedang berlagak pilon, berpura-pura tidak tahu, bahwa sebenarnya anda telah bersikap munafik? Mengapa pula ketika anda ingin seseorang cepat diproses hukum karena sebuah tindakan pidana, tapi  ketika anda menghadapI kasus yang nyaris mirip, anda malah mengerahkan massa dengan dalih mengawal anda saat diminta hadir untuk didengarkan kesaksian anda?

Bahkan hari ini, massa pendukung si Brisik akan siap menggeruduk Polda Metro Jaya ketika akan memeriksa patronnya dalam kasus gambar palu arit pada uang baru NKRI. Alasannya pun klise untuk mengawal pemeriksaan Apakah anda takut bila harus datang sendirian dengan didampingi penasehat hukum saja? Pernahkah anda berpikir secara akal sehat, bahwa pengerahan massa sangat rawan akan menimbulkan ‘kerusuhan’? Pernahkah terlintas di benak anda, bahwa kerumunan massa sangat rentan disusupi oleh kepentingan lain? Pernahkah juga hadir dalam kesadaranmu bahwa massa yang membludak di jalanan sangat berpotensi menimbulkan kerugian yang lebih banyak daripada manfaatnya? Tidakkah anda mencoba merenung bahwa membludaknya massa dan berkerumun pada suatu titik dan waktu tertentu, apalagi di jalanan akan menimbulkan kemacetan? Bila sudah demikian, siapakah yang rugi? Kita semua, public, warga bangsa ini. Dan sebagian besar adalah nasib warga bangsa yang anda klaim sedang diperjuangkan hak-haknya.

Karena itu, sering-seringlah membaca dan merenungkan pepatah lama! Biar pola sikap dan tindak kita dapat terus berada pada jalur yang benar. Tetap dipandu oleh akal dan budi. Tidak harus terbawa emosi dan perasaan yang berlebih, sehingga membuat kita bisa out of control. Gunakan nalar sesuai fungsinya secara benar dan bertanggung jawab. Meminjam istilah Bugis-Makassar, ‘jangan ero’-ero’mu! Jangan suka-sukamu, mengikuti congormu, sehingga asal mangap tanpa engkau sadari. Ingatlah, bahwa setiap ucapan dan perbuatan pasti mengandung konsekuensi! Dan bila karena ucapan dan perbuatan kita berdampak hukum, maka bersiaplah untuk secara jantan menerimanya. Jangan memelas meminta dikasihani! Juga jangan mengecewakan pengikutmu yang terlanjur pasang badan demi ‘junjungannya’. Karena hal itu dapat merusak reputasimu sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s