Ini Bukti Bahwa Jakarta Butuh Ahok

18356f55-94d0-479f-9737-41ea00428752_169

Kawasan pasar Tanah Abang Jakarta Pusat, terkenal karena arus lalu lintas yang semrawut. Bukan rahasia umum jika melintasi kawasan tersebut, tidak hanya tenaga yang mesti dioptimalkan, tetapi juga harus kuat secara mental agar tidak tersulut emosi karena ruwetnya lalu lintas.

Namun, sejak Joko Widodo menjabat sebagai Gubernur pada 2012 lalu, kawasan surga belanja yang diklaim sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara ini pun mulai dibenahi.

Parkir liar yang semula mengular saling berebut lahan dengan pedagang kaki lima di kawasan pedestrian, mulai ditertibkan. Para pedagang dan para pemarkir liar ini diberi ruang agar tidak lagi mengambil jatah ruang para pejalan kaki.

Penertiban itu berlanjut pada era kepemimpinan Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama yang semula menjabat sebagai Wakil Gubernur era Joko Widodo.
Ahok, sapaan Basuki, dengan sigap menyidak para PKL dan pemarkir yang masih bandel memanfaatkan kawasan yang diperuntukan bagi pejalan kaki itu.

Sejak saat itu, Pasar Tanah Abang disulap bukan hanya sebagai surga belanja mega besar, tetapi juga sebagai kawasan pasar yang ramah terhadap para pejalan kaki.

“Awal tahun 2016 itu Pasar Tanah Abang sudah benar-benar nyaman dan ramah pejalan kaki, macet juga sudah semakin berkurang. Karena sudah tertib tidak ada lagi yang tawar-menawar di pinggir jalan,” kata Sekertaris Jendral Partai Solidaritas Indonesia, Raja Juli Antoni, saat menyambangi kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (22/1).

Sayangnya, menurut Raja, kesemrawutan itu kembali terjadi sejak petahana mengambil cuti untuk kampanye Pilkada DKI pada 28 Oktober 2016 lalu. Jakarta, khususnya kawasan Tanah Abang, lambat laun kembali ke wajah awalnya yang semrawut.

Ada benarnya penilaian Raja. Sebab, berdasarkan pantauan di sepanjang kawasan Tanah Abang, para pejalan kaki kembali memenuhi kawasan pedestrian yang telah diperlebar sepanjang lima meter itu.

Para pedagang itu terlihat nyaman menjajakan kembali dagangannya di sepanjang trotoar.

Lalu lintas sekitar pun terganggu karena para pejalan kaki mau tak mau harus berjalan di badan jalan untuk menghindari lapak pedagang yang memenuhi trotoar. Sementara, tepat di depan stasiun kereta api Tanah Abang, sejumlah petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) berkumpul tengah berjaga-jaga.

“Namanya kerja, ya biarin aja kalau mau (berdagang), kalau aturan memang tidak boleh, cuma yang namanya juga nyari rezeki,” kata Awaludin, (bukan nama sebenarnya) salah satu petugas Satpol PP yang berjaga di kawasan itu.

Awaludin mengatakan Satpol PP sudah meminta pedagang untuk kembali ke kios yang telah disediakan. Namun dia menyatakan tak mudah membujuk para pedagang.
“Budaya di kita (Indonesia) itu kan begini, pembeli mau beli yang depan mata dia, kalau jualan di Blok G, misalnya, pembeli ya sudah datang duluan di Blok A atau B yang lebih dekat, yang di G udah gak laku,” kata dia.

Wajah Jakarta yang kembali semrawut tak hanya nampak di kawasan Tanah Abang. Berjalan sedikit menuju kawasan Kota Tua, hal serupa juga kembali terlihat.

Di sepanjang jalan menuju pintu masuk para pedagang berjejelan menjajakan dagangannya di pinggir jalan. Kondisi itu tentu membuat para pejalan kaki akhirnya menggunakan badan jalan untuk mencapai tujuan.

“Enggak enak yah begini, maunya sih pedagangnya tertib, jangan jualan di pinggir jalan gini,” kata Ida Aida (43), pengunjung Kota Tua yang mengaku lelah karena harus berdesak-desakan dengan para pedagang kaki lima saat melintas di kawasan pedestrian.

Janji Untuk PKL

Persoalan PKL dan ketertiban memang menjadi salah satu masalah utama yang dihadapi kota Jakarta. Sejak masa kampanye Pilkada DKI, persoalan ini juga telah disorot oleh tiga pasangan calon.

Pasangan calon gubernur DKI nomor urut satu, Agus Yudhoyono, menyebut penggusuran PKL justru akan menambah potret kemiskinan ibu kota.

“PKL ini bagian dari kita semuanya. Mereka masyarakat Jakarta punya hak mencari nafkah yang baik,” kata Agus saat dirinya mendatangi Munjul, Cipayung, Jakarta Timur, Desember lalu.

Dalam kampanyenya, Agus menegaskan akan serius menangani permasalahan penataan PKL di Jakarta. Dia berjanji akan meningkatkan kesejahteraan PKL dengan cara menempatkan para PKL ini di lokasi yang baik dan dengan tata ruang yang lebih layak.

“Tidak main gusur, harus ada solusi,” kata Agus saat itu.

Hal serupa juga dilontarkan calon gubernur nomor urut tiga, Anies Baswedan. Ia pun mengajukan ide penataan secara bertahap, bukan penggusuran. Sebab, menurutnya, semua warga berhak mencari nafkah di ibu kota.